Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) merupakan kejadian yang berulang untuk kesekian kalinya dan dampaknya luar biasa bagi keseharian masyarakat kita. Kali ini menimpa beberapa pulau besar di Indonesia seperti Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Dan kini yang ingin saya soroti adalah Pulau Kalimantan, pulau terbesar ketiga di dunia yang masih banyak hutannya dan bertanah gambut. Setiap El Nino kuat terjadi misalnya tahun 2015, 2019 dan saat ini jutaan sampai ratusan ribu hektar hutan dan lahan terbakar. Dan seperti biasa, pemerintah Indonesia berupaya untuk memadamkannya dengan berbagai cara, mulai dari manual oleh Manggala Agni, masyarakat, TNI, Polri, dan Pemda, juga dengan cara water bombing menggunakan pesawat dan helikopter, modifikasi cuaca, khususnya hujan buatan, juga dilakukan meskipun belum menampakkan hasil optimal. Bahkan mengingat kekeringan akibat variabilitas cuaca, musim dan iklim yang bersuperposisi, karhutla ini terlihat makin parah. Pulau Kalimantan seolah dilalap api yang terlihat dari hotspot Pulau Kalimantan yang membara.
Sungai sebagai sumber air untuk pemadaman juga mengalami kekeringan atau surut air yang berlebihan, seperti Sungai Barito yang berhulu di Kalimantan Tengah dan bermuara di Kalimantan Selatan di Laut Jawa. Biasanya, kedalaman air bisa sampai belasan meter, namun kini hanya beberapa meter saja. Kesulitan pemadaman karena terbatasnya sumber air dan juga sifat tanahnya yang bergambut serta berbatubara menyebabkan titik api di permukaan satu bisa muncul pada titik api yang jauh darinya karena dihantarkan oleh batubara di bawah permukaan tanah. Itulah sebabnya water bombing juga tidak akan menghasilkan hasil yang optimal dan hanya bersifat lokal saja. Water bombing yang dilakukan dengan pesawat maksimal hanya seberat 10 ton air saja, dibandingkan dengan operasi hujan buatan yang bisa menghasilkan miliaran liter air dan meliputi area yang luas sekali, berhasil. Namun, mengingat modifikasi cuaca tersebut membutuhkan persyaratan awan dan kelembapan relatif yang cukup tinggi, yakni 75% pada level tertentu, maka sulit diharapkan berhasil saat ini. Barangkali dalam beberapa waktu mendatang ketika monsun Asia bertiup, usaha ini akan berhasil. Tergantung nanti bagaimana interaksi antara sirkulasi Walker, Hadley, dan lokal akan terjadi selama El Niño super dan IOD positif: apakah Walker-nya nanti yang lebih kuat daripada monsoon atau Hadley-nya dan sebaliknya. Semoga bencana alam ini segera berlalu karena merepotkan semua pihak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar